DANDELION

Source : Pinterest

 

Amarah tidak akan membawa kedamaian.

Memaafkan bisa membawa damai walau butuh waktu.

Suatu waktu aku bertemu dengan sesosok yang mampu membangkitkanku dari pedihnya masa lalu.

Masa dicampakkan, masa sakit hati, masa terpuruk.

 

Awal kisah, dia hanya teman yang bisa kukagumi.

Kecerdasannya, kedewasaannya, kemandiriannya, walau sesekali nampak sisi kekanakannya, aku tetap mengaguminya.

 

Mungkin IQ tidak menjamin kemampuan.

Aku sering kesulitan menerima pelajaran dengan baik.

Aku merasa sangat bodoh, apalagi setelah melihat dia yang mudah menyerap pelajaran.

Ia semakin terlihat pandai.

Dan yah… kekagumanku terus saja bertambah.

 

Pemikirannya yang di luar dugaan, perangainya yang misterius, dan sikapnya yang sulit ditebak, terus saja menghantui alam bawah sadarku.

Aku terus saja mengaguminya.

Tidak peduli dia siapa, aku tetap mengaguminya.

 

Setelah sekian tahun mengaguminya, setelah selalu memerhatikan apapun yang ia perbuat, aku harus dirundung rasa cemas dan bimbang.

Aku mulai merasa ada getaran yang lain.

Inikah cinta?

 

Aku tidak pernah ingin menunjukkan perasaanku ini, karena bagiku dia hanyalah bintang yang terlihat indah jika dilihat dari jauh.

Aku sudah senang memerhatikannya dari jauh.

 

Namun keadaan memberi jalan untuk perlahan mendekat, memaksa nurani untuk mencintainya lebih lagi.

Kami selalu bersama.

Mungkin kami nyaman satu sama lain.

Mungkin kami ingin selalu seperti itu.

Mungkin saja.

Tapi tetap kok, aku tidak berharap banyak, mengingat dia ternyata sudah punya kekasih di ujung planet sana.

 

Aku tidak bermaksud mengganggu hubungan mereka.

Diapun seperti orang yang tidak memiliki kekasih.

Di sisiku, dia seakan milikku.

Dia seakan hanya memiliki aku, bukan siapa-siapa.

Hanya ada aku.

Seakan-akan saja, karena ini adalah sudut pandangku sendiri.

 

Rasa ingin memilikinya begitu mengekang.

Keadaan semakin sulit, kurasa.

Kami diombang-ambing kebimbangan, walau ketika bersama, kami saling menyembunyikan perasaan.

 

Sejujurnya, aku ingin kami tetap seperti ini.

Walau tidak ada status yang tertera di antara kami.

Walau kami hanya sebatas teman.

Walau kami harus merahasiakan dentuman jantung masing-masing.

Walau kami harus tersenyum getir.

Aku ingin kami tetap seperti ini.

Biar dia tetap di sisiku, walau aku tidak akan mampu merengkuhnya.

 

Di sisinya saja aku sudah bahagia.

Itu sudah cukup.

 

Hujan di satu hari bulan Januari, kami bertemu.

Tidak banyak kata yang terucap dari bibir kami.

Kami hanya saling menatap.

Aku tidak bisa menerjemahkan arti tatapannya, namun yang pasti, tatapannya sayu.

Seperti ada kesedihan?

 

Dia menyenandungkan lagu-lagu perpisahan.

Tidak biasanya dia seperti itu.

Ketika ku tanya mengapa, dia hanya meraih tubuhku, dan memelukku.

Begitu erat, sampai membuatku sesak nafas.

 

Jantung kami beradu dengan suara rintik hujan.

Entahlah, aku menyukai irama jantung kami yang bersautan.

 

Hari ini, menuju pertengahan bulan Januari yang masih berselimut hujan, pelukan itu masih terngiang.

Masih terasa hangatnya.

Namun aku sadar, pelukan itu adalah pelukan yang pertama dan terakhir dari seorang teman.

Teman yang  diam-diam kusukai.

 

Secara terselubung, sejak pelukan itu, dia menghindariku.

Dia tidak menghubungiku lagi.

Dia pergi, meninggalkanku dengan berbekal kata maaf yang akhirnya terucap.

 

Aku tidak butuh kata maaf, aku butuh penjelasannya.

Aku sangat haus penjelasan darinya.

 

Ketika ku minta penjelasan, dia justru menawarkan laki-laki lain.

Untuk apa?

Aku terlihat mudah untuk mencintai?

Hey, perasaanku diragukan.

 

Selama beberapa waktu, dia benar-benar menghilang bagai ditelan bumi.

Aku benar-benar khawatir.

Apa dia jatuh sakit?

Apa dia kecelakaan?

Apa ponselnya hilang?

Dan lain-lain.

 

Aku tidak bisa menghubunginya sama sekali.

Seolah akses komunikasi kami terputus begitu saja.

Aku sudah di block?

 

Tapi ternyata, dia sedang bersenang-senang dengan kekasih hatinya di planet nun jauh.

Mereka sangat dekat, dibanding sebelumnya.

Atau mungkin aku yang terlalu memerhatikannya sekarang?

Kekhawatiranku ini percuma saja, ya?

 

Tidak mudah untuk pura-pura berbahagia di atas kebahagiaan mereka.

Aku hanya tidak ingin menjadi jahat karena bersedih saat mereka bahagia.

Aku berharap bisa menahan semua ini dalam sekejap mata.

 

Aku ingat hari-hari di mana air mataku mengalir deras.

Seperti kran bocor.

Aku menangisi kenyataan, kepergiannya, juga merutukki diri sendiri.

Rambut yang kusayang-sayang mulai rontok melebihi batas.

Aku gila untuk mencintanya.

 

Mungkin memang salahku juga, menyukai seorang yang sudah dimiliki.

Walau kenyataannya, aku sudah tertarik sebelum wanita itu memilikinya.

 

Marah?

Tidak, aku tidak pernah marah.

Aku tulus menyayanginya.

 

Kecewa?

Ya.

Dia menyingkirkanku setelah memelukku.

Dia membuatku berpikir semua laki-laki sama saja kecuali ayahku.

 

Benci?

Aku tidak sanggup membencinya walau sepertinya aku sudah dibuang olehnya.

Aku masih merindukannya.

Rindu senyumannya, suaranya, pesan singkatnya, semuanya.

 

Ah sudahlah, diapun sudah memblokirku dari hidupnya.

Biar dia menjadi salah satu kisah patah hatiku.

 

Aku hanya harus menjadi seperti dandelion, kan?

Lemah, tertiup angin, dan terbang mengikuti angin.

Sakit hatiku akan menghambur bersama udara.

 

Terima kasih sudah pernah membuatku bangkit dari cinta yang kelam.

Walaupun saat ini aku harus berjuang lagi, untuk bangkit dari patah hati.

 

 

Terinspirasi dari :

Itazurana Kiss The Movie in High School.

Kapan-kapan saya buat sinopsisnya ya ^^

Advertisements

2 thoughts on “DANDELION

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s