When We Were Young

 

Source : dramabeans.com

“Persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu.”

 

Adalah tiga orang bersahabat, mulai dari ulat, hingga menjadi secantik kupu-kupu.

Mereka bersahabat sejak SMA. Mereka tiga tahun berada di satu kelas yang sama.

Sebut mereka Sutiko, Yanto dan Ning.

 

Jangan salah paham, ketiganya adalah gadis-gadis manis yang selalu riang.

 

Sutiko, memiliki postur tubuh paling tinggi dibanding Yanto dan Ning.

Karena itu, Sutiko sering diandalkan menjadi ‘body guard’ untuk mengusir laki-laki jahil yang suka dekat-dekat.

 

Yanto, paling tua, namun terlihat paling kekanakan.

Tingkahnya selalu konyol dan menghibur.

 

Dan Ning, yang terobsesi pada Drama Korea.

Tidak jarang ia dijuluki Drama Queen.

 

Ketiganya selalu menghabiskan waktu bersama.

Mengikuti les yang sama, ekstrakulikuler yang sama, jalan-jalan bersama, dan lainnya.

Pakaian? Senada.

Sepatu? Kembar bertiga.

Jam tangan ? Kembar bertiga.

Seolah teman mereka ya hanya itu saja.

Dunia hanya milik mereka bertiga.

 

Kelas satu SMA, jadi satu tahun perkenalan mereka.

Satu tahun penjejakkan pribadi masing-masing.

Tidak pernah bertengkar, karena ketiganya mencoba saling memaklumi.

Satu tahun itu mereka habiskan untuk senang-senang.

Mereka merasa menjadi remaja paling bahagia di jamannya.

 

Kelas dua SMA, mereka mulai memiliki tambatan hati masing-masing.

Uniknya lagi, kekasih mereka juga bersahabat.

Mereka tetap saja pergi berenam ketika kencan.

Suatu hari, Sutiko putus dengan kekasihnya, Jofan.

Putus dengan tidak baik-baik.

Mereka saling membenci.

Nyatanya, hal itu sedikit menjadi batu di antara hubungan Yanto dan Ning dengan kekasih masing-masing.

Ibaratnya ada fenomena ‘latah’, kemudian Yanto dan Ning ikut putus dengan pacar masing-masing.

Jelas, mereka adalah sahabat sehidup semati.

 

Kelas tiga SMA, mereka masih berada di satu kelas yang sama.

Berbagi cerita bersama, tetap saling memahami, tidak ada konflik yang mengganggu.

Mendekati ujian nasional, mereka bertiga belajar bersama.

Tekad mereka, mereka harus dapat nilai tinggi di Ujian Nasional!

Benar saja, ketiganya berhasil lulus dengan nilai yang tinggi.

 

Kemudian, mereka memutuskan untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

 

Sutiko yang suka jalan-jalan berhasil masuk Akademi Pariwisata.

Supaya bisa lebih sering jalan-jalan.

 

Yanto yang sangat perhitungan berhasil masuk Universitas Negeri jurusan Akuntansi.

Supaya tidak salah hitung jika ada yang berhutang padanya.

 

Ning, yang ingin jadi ibu rumah tangga berhasil masuk Universitas Negeri jurusan kependidikan. Supaya ia bisa mendidik anak-anaknya kelak dengan baik.

 

Waktu berlau begitu saja.

Mereka melalui masa kuliah di jalan mereka masing-masing.

Tidak ada sapa dan salam seperti yang setiap hari mereka lakukan sewaktu SMA.

Hingga akhirnya mereka kehilangan kontak masing-masing.

Mereka terlau sibuk mengejar mimpi.

 

Hari ini mereka bertemu di pernikahan teman sekelas SMA.

Mereka datang di waktu yang nyaris bersamaan.

Mungkin awalnya mereka saling pangling melihat sahabat lama yang semakin cantik dan anggun.

Lalu mereka hanya saling melempar senyum.

Canggung, tidak seakrab  yang waktu itu.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s