#CINTAYANGSULIT 1 : Obsesi

Sumber : Google

Hujan selalu sukses membawa saya terhanyut.

Udara yang lembap, suasana yang syahdu diiringi percikan air hujan, juga semilir angin yang merangkul.

Dinginnya hujan membekukan waktu, lantas saja saya terlontar pergi ke masa lalu.

 

Kali ini saya teringat masa-masa saya bangkit.

Ibaratnya saya ini habis bangkit dari kubur.

Saya si penyanjung cinta, terbius oleh cinta itu sendiri.

 

Baca juga : #CINTAYANGSULIT : SEPUCUK SURAT TERDAHULU

 

“Cinta itu indah,” kata orang.

Kalau kata The Overtunes sih, cinta bisa membuatmu menangis, bisa membuatmu tertawa, juga membuatmu belajar dewasa. (Song : The Overtunes – Cinta Adalah)

 

Tapi tidak bagi sebagian orang, termasuk saya.

Cinta itu perih.

Cinta itu menyakitkan.

Cinta itu salah satu ‘makanan’ yang saya benci.

 

Cinta saya yang sebelumnya, mengajarkan saya akan bodohnya cinta.

Saya terlalu mencintai seseorang hingga saya selalu berusaha memaafkannya.

Saya dikhianati bualan indahnya cinta.

Saya sakit hati.

Sumber : Google

 

Saya takut jatuh cinta, lagi.

 

Persetan dengan cinta.

Jangan pernah dekat-dekat dengan cinta.

 

Hingga pada satu waktu, peluru berbalik arah menuju sang penembak.

Saya termakan ucapan saya sendiri.

Saya jatuh cinta, lagi.

Lebih tepatnya : untuk kesekian kalinya.

 

Setelah hati saya terkubur dalam-dalam, hati saya mulai bangkit.

Hati saya dipenuhi berbagai macam bunga lengkap dengan kupu-kupu yang membuat semua nampak indah.

 

Saya diijinkan jatuh hati pada seseorang yang awalnya saya pikir adalah jodoh saya, hanya karena getaran-getaran di sekujur tubuh yang abnormal.

Sebelumnya saya belum pernah seperti itu.

Sekujur tubuh melemas.

Jantung berdegup tidak karuan.

Tangan dingin dan gemetar.

Bibir diam membisu.

 

Saya belum tahu, jodoh definisi itu seperti apa.

Bagaimana kita bisa menyebutkan orang itu jodoh?

Apakah dapat dinilai dari gejala-gejala yang aneh?

 

Saya selalu menikmati setiap salah tingkah saya.

Saya menyukai perasaan ini.

Saya jadi bahagia.

Tapi dengan kebahagiaan inilah, cinta yang sulit mulai bersemi.

Bergulir meremas masa muda yang akhirnya saya habiskan hanya untuk memujanya.

Dari jauh.

 

Dia hanyalah kakak tingkat yang dapat ditemui barang sekali dua kali dalam seminggu.

Saya mencoba mencari jadwal kuliahnya.

Saya menghafal tempat-tempat yang biasa ia kunjungi.

Saya berusaha menghafal plat nomor sepeda motornya.

Saya juga menghafal pakaian dan segala perintilan yang ia kenakan.

Dengan cara itu, saya merasa dekat dengannya.

 

Sumber : Google

Setiap melihatnya, selalu terlintas bayangan masa depan.

Saya mulai membayangkan kami berkenalan.

Lalu kami yang saling jatuh cinta mulai ingin serius.

Kami saling mengenalkan orang tua kami.

Kami menikah di gereja yang indah, mengenakan pakaian terindah.

Setelah itu kami memiliki anak, dan hidup bahagia selamanya.

 

Saya terlalu banyak mendengar dongeng kerajaan.

Saya juga terlalu sering menonton drama.

Saya jadi agak kurang realistis, ya?

 

Tapi rasa-rasanya, dia memang pria idaman saya dari dulu.

Apapun yang saya lihat pada dirinya sangatlah sempurna.

 

Saya sering dianggap gila oleh teman-teman saya.

Saya terlalu menyanjungnya, padahal yang teman-teman saya lihat dia tidaklah sesempurna itu.

Ya, inilah cinta.

Cinta bisa buta, kan?

 

Dua tahun jadi tahun keramat.

Saya bahagia menjalani hari-hari saya di kampus.

Walaupun banyak tugas berat, asal bertemu kakak tingkat pujaan hati, semua tidak ada apa-apanya.

Saya rela tidak libur dan berangkat ke kampus hanya untuk melihatnya.

 

 

Saya menggilainya.

 

Hanya melihat punggungnya.

Hanya melihat motornya di parkiran.

Hanya melihatnya memasuki ruang kelas.

Hanya melihat sepatunya di rak sepatu.

Berdiri di tempatnya biasa berdiri.

Berada di lift yang biasanya ia naiki.

Duduk di kursi kantin yang biasa ia duduki.

 

Saya jadi teringat lagu Ika Putri.

“Sebenarnya aku, slalu mencarimu, saat kau tak ku temukan di tempat itu.” (Song : Ika Putri – Pemuja Rahasia)

 

Ya, saya selalu mencarinya.

Karena semua tentangnya membuat saya bahagia.

 

Sesederhana itu cara membuat saya tersenyum.

Padahal saya ingat, saya belum mengenalnya.

 

Saya hanya pecundang yang memerhatikannya dari jauh, tanpa berani menyapa walau sudah beberapa kali kontak mata.

 

Sumber : Google

Cinta ini sulit, ketika (akhirnya) saya menyadari ada yang janggal dalam diri saya.

Hari demi hari, semakin terobsesi.

Seminggu harus bertemu, setidaknya sekali, walau dalam radius 5 km.

Setiap hari harus memandangi fotonya yang kucuri dari sosial medianya.

Harus ada perkembangan informasi tentangnya.

 

Ya, inilah saya.

Seorang penguntit yang percaya pada takhayul indahnya cinta dalam hati.

Seorang penguntit yang mulai tersiksa dengan obsesinya sendiri.

 

Saya belum tahu cara melupakannya.

Saya jadi terbiasa menjadi paparazi.

Dia menjadi candu untuk saya.

Saya ingin berhenti, tapi obsesi semakin besar.

 

Kemudian hari-hari berlalu begitu saja.

Kesibukan tugas kuliah mulai terasa.

Semesta tidak lagi mengijinkan kami untuk bertemu.

Dia sangat sibuk dengan skripsinya.

Penelitian, penelitian, dan penelitian.

Saya sibuk dengan tugas saya.

Praktikum, praktikum, dan praktikum.

 

Saya tidak lagi melihatnya.

Sepeda motornya juga tidak lagi saya temui di parkiran.

 

Saya juga tidak mendapat informasi apapun tentangnya.

Seakan saya sudah terlalu tahu tentangnya.

Atau otak saya sudah penuh, mungkin.

Awalnya saya ragu untuk mengatakan, tapi ternyata benar.

Saya mulai melupakannya.

 

Hasrat saya untuk melihatnya berkurang.

Saya terbiasa tidak berharap akan bertemu.

Saya terbiasa tidak membuka akun sosmednya.

 

Saya mengakhiri cinta yang sulit ini dengan harapan ada cinta baru.

Cinta yang lebih sulit?

Tidak apa-apa, yang penting hati saya terisi kembali.

 

Dan hujanpun berhenti. Sekiranya saya sudah pensiun sebagai penguntit.

 

DISCLAIMER :

Ide cerita hanyalah fiktif belaka.

Jangan terlalu dibawa ke perasaan.

Advertisements

6 thoughts on “#CINTAYANGSULIT 1 : Obsesi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s