Messy and Her Drama chapter 2

cerbung Messy 2

 

Chapter 1 click here

 

“Perkenalkan saya Rama Dermawan, saya guru pengganti Bu Erna untuk pelajaran Fisika. Kalian bisa panggil saya Pak Rama, tapi kalo di luar kelas bila panggil Mas Rama biar lebih akrab.”

“Loh, ini kan anak baru yang ambilin bedak aku tadi………………….”

 

            Guru pengganti itu segera menempati meja dan kursi khusus guru. Semua mata masih memandang guru muda itu. Decak kagum terdengar.

“Pertemuan pertama dengan saya ini, kita perkenalan dulu aja, ya? Saya ingin mengenal kalian semua,” ujar Pak Rama, diikuti sorakan bahagia seluruh siswa 2 IPA 1. Kapan lagi pelajaran Fisika seperti ini?

“Kenalkan diri kalian satu persatu ya? Saya orangnya mudah ingat, jadi saya akan hafalkan nama kalian semua. Mulai dari sebelah sini ya?”

Satu persatu siswa 2 IPA 1 mulai memperkenalkan dirinya di depan kelas. Hingga tiba waktunya Messy untuk memperkenalkan dirinya, dengan langkah ragu-ragu Messy maju ke depan kelas. Belum sampai depan kelas, Messy tersandung tas di bangku nomor dua dari depan.

“Aduh!”

Messy memang dibantu berdiri oleh seorang temannya, tapi tidak menghindari tawa siswa yang melihat adegan Messy tersandung.

            “Jangan grogi, Mes!”

            “Tenang, Mes!”

“Emm… Nama saya… Messy Cantika, biasa dipanggil Messy.”

“Kenapa nggak dipanggil Cantik aja? Kamu kan cantik?” goda Pak Rama yang membuat kelas semakin gaduh.

Dengan wajah memerah, Messy tersenyum, kemudian menunduk, tidak berani menampakkan wajahnya. Ia sadar betul pipinya sedang memerah karena kepalanya terasa dialiri darah dingin. Tangannya berkeringat, jantungnya terpacu tidak karuan.

“Hobi kamu apa?” tanya Pak Rama kemudian.

“Hah? Siapa? Saya?” jawab Messy gugup.

“Ya siapa lagi? Yang di depan kan cuma kamu?”

Messy tidak bergeming, entah mengapa ia seperti sedang dihujani es batu. Beku, terasa dingin, dan tubuhnya melemas.

***

            Istirahat tiba, Messy segera menuju kantin untuk mengisi perutnya. Ia merasa begitu lapar setelah jam pelajaran yang rasanya berat tadi.

“Bu, nasi soto satu, ya?” pesan Messy pada Bu Mirah, penjual kantin favoritnya.

“Tiap hari soto mulu, nggak bosen, Mes?” tanya Sonya.

“Aku nggak pernah dan nggak akan pernah bosen sama soto. Kamu pesen apa? Cepetan , Son.”

“Ya udah deh, aku soto juga. Bu, aku pesen soto juga, ya? Kita duduk di depan sini, ya?” pesan Sonya kemudian.

Sonya dan Messy kemudian duduk di bangku kosong tepat di depan bilik kantin Bu Mirah. Mereka menunggu pesanan mereka sambil berbincang.

“Mes, kayaknya Pak Rama suka deh sama kamu. Dari tadi kamu digodain terus.”

“Dari pertama ketemu juga aku udah ngerasa Pak Rama suka gitu sama aku, Son. Dia bilang aku cantik terus. Tapi ogah banget ya pacaran sama bapak-bapak gitu. Aku kira dia anak baru. Eh taunya guru baru.”

“Iya ya… Wajahnya baby face. Tapi sayang umur nggak bisa ditipu. Kira-kira Pak Rama umur berapa, ya, Mes?”

“Tiga puluhan kali…”

“Tapi, yang aku heran, tatapannya ke kamu itu loh, Mes…”

“Kenapa tatapannya, Son?”

“Nggak tahu ya, gimana gitu deh pokoknya, nggak bisa dijelasin dengan kata-kata.”

“Eh kok serem, ya? Jangan-jangan Pak Rama itu kayak yang ada di TV, guru yang suka cabul ke muridnya.”

“Huss.. Nggak boleh bilang gitu ah, Mes. Tapi gimana, ya, tatapannya kayak ngeliat orang yang udah lama dikenal gitu. Dia kayak bersyukur gitu, loh, Mes. Apa jangan-jangan Pak Rama itu ternyata saudara kamu? Saudara yang ditukar gitu? Hahahaha…!!”

“Ah, mulai ngaco nih, kebanyakan nonton sinetron, ya gini hasilnya, hahaha!!”

“Permisi, Mbak Messy, Mbak Sonya, ini sotonya,” kata Amin, anak laki-laki Bu Mirah yang juga ikut membantu Ibunya di kantin sekolah Messy.

“Makasih, ya, Dek. Eh iya, aku pesen es teh juga, ya?” pesan Messy, lagi.

“Eh, eh, aku juga, ya, Dek?” tambah Sonya.

“Ah, selalu deh ikut-ikut,” protes Messy yang membuat Sonya menjulurkan lidahnya.

Setelah mendapat makanan pesanan mereka, Messy dan Sonya segera berdoa, dan menyantap makanan mereka dengan lahap. Rupanya, jam pelajaran Pak Rama itu memang begitu menguras tenaga.

“Saya ikut makan di sini, ya?” kata seorang tiba-tiba dan langsung duduk di depan Messy dan Sonya, yang membuat mereka mendongak, untuk memastikan siapa yang duduk di hadapan mereka.

“Pak Rama…”

“Iya, iya, Pak. Silahkan.”

“Kok Pak? Saya kan udah bilang tadi, kalo di luar kelas, panggil saya Mas Rama.”

Tidak ada yang merespon. Messy dan Sonya hanya terus menyendok makanannya dan memasukkannya ke dalam mulut mereka. Mereka sangat lahap. Bukan hanya karena lapar, tapi juga karena ingin segera pergi meninggalkan kantin. Bagaimanapun, setampan apapun guru mereka, Pak Rama tetaplah seorang guru yang membuat Messy dan Sonya tidak terlalu nyaman duduk di bangku itu.

Belum lagi puluhan pasang mata yang saat ini menuju pada Messy dan Sonya. Mereka semua terlihat heran, tapi ada juga yang terlihat iri. Iri, mengapa Messy dan Sonya bisa makan siang dengan guru super tampan itu?

Tidak ada sepuluh menit, Messy dan Sonya mampu menghabiskan soto mereka. Dengan terburu-buru mereka berpamitan dengan Pak Rama yang baru saja mendapat siomay pesanannya.

“Pak, eh, Mas Rama, kita duluan ya, mau belajar, habis gini ada ujian,” pamit Sonya.

“Iya, iya, udah sana belajar dulu. Soto kalian biar saya yang bayar.”

***

            Jarum jam tangan Messy sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore. Messy dengan sepeda motornya segera menuju rumah. Messy hanya ingin merebahkan kepalanya yang terasa penat.

“Tengsin banget hari ini! Mas Rama ganteng-ganteng tapi genit, tapi lumayan, sih, makan aja dibayarin, hihihi,” ujar Messy dalam hati sambil senyum-senyum sendiri. Guratan senyum Messy benar-benar terlihat di balik kaca helmnya. Siapa saja yang melihat Messy dalam  keadaan seperti ini pasti mengira bahwa Messy sudah tidak waras.

“Gimana ya rasanya pacaran sama guru? Guru ganteng gitu. Pasti nanti di sekolah banyak banget yang iri. Nilai Fisikaku juga bakalan bagus. Kalo jalan enak nggak perlu keluar uang. Kalo belajar langsung diajarin pacar. Pacar aku kan guruku sendiri.”

Messy terus saja berkhayal tentang Pak Rama, sampai-sampai ia tidak fokus mengemudi.

Bruuuuuaaaakkkkk!!!

“Awwww!!!”

Messy menabrak sebuah truk yang sedang berhenti. Hanya mampu berteriak, kemudian Messy kehilangan kesadarannya.

***

            Messy membuka matanya. Ia sadari, ia tidak berada di tempat yang ia kenali. Seperti apa yang sering Messy lihat dalam film, setiap ada orang yang mengalami hal itu pasti akan langsung bertanya, “Aku dimana?”

Di sebelah kanan Messy sudah berdiri Mbak Merry, kakak kedua Messy.

“Kamu di rumah sakit, Dek. Kamu masih pusing?”

“Enggak, Mbak. Eh Mbak, aku tadi kayaknya nabrak truk, ya? Terus truknya gimana? Sopirnya gimana? Luka parah nggak? Apa mereka minta ganti rugi, Mbak?” tanya Messy.

“Ya ampun, Dek. Tanyanya satu-satu. Hahahahaha. Enggak, kok, truknya sama sopirnya nggak apa-apa. Kamu nih yang kenapa-kenapa. Truk nggak bersalah gitu kok malah kamu tabrak, Dek. Kamu ngelamunin apa, sih, hayo?”

“Nggak, Mbak. Aku cuma capek aja, kok,” jawab Messy malu-malu.

“Ngaku deh, Dek. Hahaha!”

Mbak Merry hanya tertawa geli melihat ekspresi yang ditunjukkan adiknya itu.

“Dek Messy !!!” teriak satu suara yang berasal dari luar bilik tempat Messy berbaring.

“Mbak Melly, sssttt!!” Mbak Merry memperingatkan kakak satu-satunya itu. Mbak Melly ini adalah kakak pertama Messy. Mereka tiga bersaudara. Melly, Merry, Messy.

“Eh aduh, maaf-maaf. Dek, kamu nggak apa-apa kan sayang? Mbak kaget, katanya kamu tabrakan sama truk, Dek,” tambah Mbak Melly.

“Hahahaha!!! Bukan tabrakan, Mbak Mel. Dek Messy ini yang nabrak truk. Hahaha!!” protes Mbak Merry.

“Oalah, Dek, kamu mikir apa to, Dek?” tanya Mbak Melly sambil membelai rambut Messy.

“Permisi..”

Ada satu suara lagi yang datang. Kali ini laki-laki. Bukan Papa Messy karena beliau sedang berada di luar kota. Bukan juga ‘M’ bersaudara karena mereka hanya tiga M bersaudara, itupun semuanya perempuan dan sudah berkumpul.

“Sayang, sini masuk,” ujar Mbak Melly mempersilahkan si empunya suara tadi untuk segera masuk.

“Ciye Mbak Melly udah bawa pacar baru,” goda Messy.

Sosok yang dipanggil ‘Sayang’ oleh Mbak Melly kemudian datang dengan membawa satu keranjang buah, roti, dan susu.

Namun kemudian Messy membelalak kaget.

“Hah?! Pak Rama???”

 

 

To be continued…

 

4 thoughts on “Messy and Her Drama chapter 2

  1. Wkwkwkw, lucu talll
    Aku suka sama namanya.. Messy
    Cuocok sama karakternya 😀
    Tp, itu nabrak truk kok bisa masi hidup ya tal?
    Wkwkw,begitu sadar langsung bisa guyon lagi, gak pake acara koma2an segala
    Wkwk
    Trs, pak ramanya genit ato messy nya yg kegeeran, wkwk
    Lanjut ya tal, tak tunggu terus

    1. Messy sebenernya mengingatkanku ke makanan cokelat yang biasanya buat roti itu loh hahaha 😀
      Iya truknya kan diem, jadi si Messy cuma jatuh dan ………… (tunggu chapter 3 hahaha :v)
      Kehidupan drama Messy nggak serumit drama di TV wkwk
      Jawabannya ada di chapter selanjutnya yaaa,
      Hehehe, makasih udah mau nunggu :* wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s