Messy and Her Drama chapter 1

cerbung Messy 1

Messy menarik selimutnya, menghalau sinar mentari yang menerobos jendela kamarnya, dan berupaya menyinari wajahnya. “Messy, sudah jam 6. Nanti kamu terlambat, loh, ayo bangun!” kata Mama membangunkan Messy dengan nada halusnya. “Iya, Ma, lima menit lagi, Ma!” jawab Messy masih dengan mata tertutup. “Lima menit kamu itu lima jam, ayo bangun!” ujar Mama sembari menarik selimut Messy. “Aduh, iya iya!” jawab Messy akhirnya, sambil beranjak dari tempat tidur walau kedua matanya masih tertutup.

Sudah bukan hal aneh kalau setiap pagi Messy sulit bangun tidur. Malamnya, Messy selalu saja bergadang untuk menonton drama Korea tanpa sepengetahuan Mama. Messy tidak mampu mengontrol diri untuk tidak menonton drama Korea yang sudah ia simpan rapi dalam ponselnya. Inilah efek negatif perkembangan teknologi, bahkan video drama Korea sudah dapat dimasukkan ke dalam ponsel yang tentunya akan memudahkan siapa saja untuk menontonnya dimanapun dan kapanpun.

Mama memang tidak melarang anak semata wayangnya itu untuk menonton drama buatan negeri ginseng itu. Tapi Mama hanya mengijinkan Messy yang kini duduk di bangku kelas 2 SMA itu untuk menonton drama Korea pada akhir pekan atau hari libur, bukan di hari-hari efektif sekolah. Oleh karena itu, Messy sengaja menyimpan drama Korea di ponsel kesayangannya itu sehingga ia bisa menontonnya hingga tengah malam, tanpa sepengetahuan Mama, karena Mama pasti mengira Messy sudah tertidur pulas.

Pagi ini, hari Rabu, kelas pertama Messy ialah kelas Fisika. Satu pelajaran yang sangat Messy tidak suka. Messy adalah anak SMA jurusan IPA yang memang sudah sepatutnya mendalami hal-hal yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan alam, hanya saja ia sangat membenci pelajaran Fisika.

“Eh, guys! Katanya Bu Erna udah cuti melahirkan. Berarti kita nggak ada Fisika lagi!” seru Kimi, siswi 2 IPA 1 yang paling suka gembar-gembor kabar burung. Berita yang disampaikan Kimi tidak begitu saja mendapat perhatian dari teman sekelasnya, karena siswa-siswi 2 IPA 1 sudah terlanjur tidak memercayai kata-kata Kimi.

Tapi tidak dengan Messy.

“Emang iya, Kim? Syukur deh,” ujar Messy dengan wajah sumringah.

“Please deh, Messy! Kayak nggak kenal Kimi aja. Ratu gosip dia mah!” seru salah seorang teman Messy memperingatkan Messy.

“Loh, beneran deh, sumpah, aku tadi denger waktu Bu Niken sama Bu Astri ngobrol di depan TU,” Kimi membela diri.

“Udah… udah… Kita lihat aja nanti, Bu Erna ada apa enggak,” lerai salah seorang lainnya.

Messy melirik jam tangannya, masih pukul tujuh kurang lima, akhirnya Messy memutuskan untuk ke toilet untuk bersolek sebentar.

Messy yang sangat menggandrungi drama Korea, nyatanya juga menguti trend fashion ala Korea Selatan. Kulit Messy putih, rambutnya tergerai panjang. Ia berdandan seperti orang Korea Selatan. Di depan kaca toilet, tangan Messy mulai beraksi. Ia memoles kulit wajahnya dengan bedak, kemudian memulas bibirnya dengan pewarna bibir. Bibirnya terlihat berwarna merah muda. Bukannya di rumah Messy belum berhias, hanya saja Messy tidak pernah merasa puas, sehingga berkali-kali ia harus mengulanginya.

            Teeettt .. !! Teett…!!!

Bel pertanda masuk kelas sudah berbunyi. Segera Messy merapikan rambutnya, kemudian memasukkan kosmetiknya ke dalam saku dan bergegas menuju kelasnya. Karena terburu-buru, bedaknya jatuh dari sakunya. Messy menghentikan langkahnya begitu sadar bedak kesayangannya jatuh. Messy memutar badannya, bermaksud untuk mengambil bedak. Namun ternyata bedak itu sudah berada di tangan seorang laki-laki berwajah oriental dengan potongan rambut persis seperti aktor yang bermain dalam serial drama Korea favorit Messy.

Messy menelan ludah.

“Maaf, itu punyaku,” kata Messy pada laki-laki yang mengenakan kemeja biru tua dengan bawahan celana kain berwarna hitam. Tubuhnya yang tinggi, dadanya yang bidang, dengan tas di punggungnya, membuat Messy penasaran, “Anak baru ini masuk di kelas mana, ya?”.

“Ini, lain kali hati-hati, ya? Tapi kayaknya nggak perlu juga sih, kalo ke sekolah bawa beginian. Nggak perlu dandan tebel, kamu juga udah cantik, kok,” ujar laki-laki itu sembari menyodorkan bedak Messy. Laki-laki itu tersenyum setelah Messy mengambil kembali bedaknya. Messy tersipu malu, dan kemudian berlari menuju kelas, tanpa mengucapkan terima kasih.

Selama perjalanan menuju kelasnya, walaupun sedang berlari, Messy masih berpikir. Siapa laki-laki itu? Anak baru kok belagu? Pake bilang jangan dandan tebel. Perasaan dandananku biasa aja. Tapi tadi dia bilang aku cantik! Jangan-jangan dia suka sama aku?

“Bu Erna belum dateng? Bu Erna beneran cuti?” tanya Messy kepada Sonya, teman sebangkunya, dengan nafas yang masih ngos-ngosan, sesampainya di kelas.

“Nggak tahu juga, ya, Mes. Semoga aja cuti beneran, jadi kita bisa free!” jawab Sonya yang terlihat asyik bermain ponselnya.

“Ih, tau gitu aku nggak lari-lari, huh! Eh eh, lihat deh jerawat aku….”

            Tok … tok… tok…

Pintu kelas diketuk dari luar, kemudian dibuka sendiri oleh si pengetuk pintu.

“Selamat pagi? Ini benar kelas 2 IPA 1?” tanya seseorang yang muncul dari balik pintu.

“Perkenalkan saya Rama Dermawan, saya guru pengganti Bu Erna untuk pelajaran Fisika. Kalian bisa panggil saya Pak Rama, tapi kalo di luar kelas bila panggil Mas Rama biar lebih akrab.

“Loh, ini kan anak baru yang ambilin bedak aku tadi. Bagaimana sekecil itu bisa jadi guru?”

 

 

To be continued…

 

10 thoughts on “Messy and Her Drama chapter 1

  1. Pingback: Ceels Journey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s