Bersembunyi, Mungkin (Flash Fiction)

“Bukain, dong kamar mandinya!!” seru Lina sambil menggedor pintu bercat merah muda dengan ganas.

“Sabar, dong, Lin,” tanggapku pelan.

“Nanti aku bisa telat, nih!! Argghh!!” omel Lina seraya terus menggedor pintu kamar mandi kost-an.

“Ihh, salah sendiri bangun kesiangan!” celoteh Bunga yang sedang memasak omelet bersamaku.

Lina menoleh ke kanan, ke arah kami dengan tatapan penuh amarah, lalu memonyongkan bibir tebalnya yang makin terlihat tebal.

“Veraaaa!!! Bukaaaaa!!!” teriak Lina dengan garang. Sudah tidak heran apabila Lina seperti ini, omelannya sudah menjadi kebiasaannya. Bangun jam tujuh kurang seperempat, padahal kuliahnya jam tujuh teng.

“Ih Ver, kalo mandi yang cepet dikit dong!! Lama amat, sih? Nyusahin orang tau gak?? Eh, kamu mandi apa luluran, sih, hah??” seru Lina, lagi. Aku dan Bunga tertawa kecil.

Tiba-tiba, sosok yang sedari tadi disebut Lina muncul dari arah ruang depan.

“Bunga, kamu lihat arlojiku?”

Wajah Lina merah merona. Cepat-cepat ia masuk ke kamar mandi. Bersembunyi, mungkin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s